Senin, 24 Januari 2011

merah putih di puncak HIMALAYA






MERAH PUTIH DI PUNCAK HIMALAYA












Itulah sebuah sikap kejuangan pantang menyerah yang patut kita hayati !
Identik dengan sikap kita dalam memantapkan idealisme, nasionalisme dan patriotisme selaku anak bangsa yang segera ingin menyaksikan Kemakmuran Indonesia Raya..! (Prabowo Subianto)


Kisah Kopassus Merayap di Puncak Everest

Jakarta di landa huru-hara. Sabtu, 27 Juli 1996, ratusan aparat keamanan berbaur dengan ratusan anggota "PDI Soerjadi" menyerbu Kantor DPP "PDI Megawati" di bilangan Jalan Diponegoro. Korban berjatuhan, darah berceceran di mana-mana. Sejumlah bangunan porak poranda digasak massa.

Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari lokasi kerusuhan itu, di Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD digelar pertemuan penting. Komandan Kopassus, Mayjen Prabowo, memimpin rapat yang dihadiri tak kurang sepuluh orang itu.

Prabowo sedang menyampaikan mimpi besarnya: anggota Kopassus bisa mencapai puncak tertinggi di dunia, puncak Mount Everest. "Itu pertemuan formal pertama yang terjadi, sejak itulah rencana pendakian Mount Everest dengan cepat dimatangkan," kata Gunawan Muhammad, pendaki gunung dari Wanadri yang biasa dipanggil "Ogun."

Ada sejumlah alasan kenapa Prabowo begitu menggebu-gebu untuk mengirim anggotanya mendaki Mount Everest. Salah satunya, ketika itu Malaysia sudah menyiapkan timnya untuk mendaki Everest. "Dia ingin kita lebih dulu dari Malaysia," kata Ogun. Target pendakian ditetapkan sekitar April atau Maret 1997 karena Malaysia merencanakan pendakian pada Juni 1997.

Ada sekitar 40 pendaki sipil dan militer yang dipanggil untuk diseleksi. Pendaki militer semuanya anggota Kopassus. "Saya ditunjuk dari atasan untuk menjadi anggota tim dan kemudian diperintahkan untuk memilih anggota yang lain," kata Sudarto Rabu pekan lalu kepada Tempo News Room. Saat ditunjuk Sudarto bertugas di Grup V Kopassus Detasemen 81, pasukan pendaki serbu.

Dari jumlah itu menciut menjadi sekitar 30 orang orang. "Ini pendakian nekad, persiapan pendek, dan dari pendaki militer hanya dua orang yang pernah naik gunung bersalju, " kata Ogun. Prabowo menunjuk Letnan Kolonel Pramono Edhie Wibowo, kini ajudan Presiden Megawati, sebagai pimpinan tim pendakian. Jadwal latihan dibuat ketat. Selain dilakukan di Markas Kopassus, Cijantung, latihan juga diadakan di Gunung Gede dan Pangrango.

Tapi, mepetnya waktu membuat Prabowo mengambil keputusan lain. Desember 1996 latihan dipindahkan langsung ke pusat sasaran, Nepal. "Keuntungannya, pendaki dari militer bisa lebih cepat mengalami proses aklimasi," kata Galih Donikara, pendaki Wanadri yang juga ikut ekspedisi itu.

Prabowo memang menaruh perhatian besar terhadap misi ini. Semua kebutuhan tim disiapkan. Peralatan pendakian kualitas klas satu dibeli dan didatangkan langsung dari Amerika ke basecamp para pendaki Indonesia di Kathmandu. Hubungan yang baik antara Prabowo dengan Angkatan Bersenjata Nepal ikut memperlancar persiapan pendakian. Tim Indonesia, misalnya, sempat mendapat pinjaman peralatan muktahir komunikasi milik Angkatan Bersenjata Nepal. Tim indonesia memang dilengkapi oleh sarana radio militer yang khusus didatangkan dari Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta. Dari radio inilah medan Everets dari detik per detik bisa dipantau.

Di Nepal, Tim Indonesia menyewa tiga pendaki klas dunia untuk melatih dan mendampingi pendakian ke summit, puncak everest. Mereka adalah Anatoly Boukreev, Evgenie Vinogradsky dan Vladimier Baskhirov. Ketiga pendaki Rusia ini adalah "empunya" para pendaki Mount Everest. Di kalangan pendaki, Baskhirov dikenal karena kenekadannya. Baskhirov belakangan, sebulan setelah mengantarkan tim pendaki Indonesia, tewas saat membawa tim pendaki Rusia ke Everest.

Selama sekitar dua bulan trio pelatih ini menggenjot tim Indonesia untuk persiapan pendakian. Tim ini juga diharuskan mendaki gunung bersalju, Paldor (5.500 m) dan Island Peak (6.189 m).

Tim Indonesia dibagi dua kelompok. Tim Utara (lewat Tibet) dan Tim Selatan di Nepal. Di tim selatan ini ikut pula bergabung ketiga pelatih Rusia. Tujuan pembagian tim, antara lain, jika terjadi badai di jalur utara, maka tim selatan diharapkan bisa mencapai puncak. Demikian sebaliknya. Gempuran badai dan ancaman salju longsor, jet stream wind yang berkecepatan hingga 100 mil per jam, memang bisa terjadi setiap detik.

Pada 12 Maret 1997 tim Selatan memulai pendakian. Prabowo khusus datang ke dengan helikopter ke kora kecil Lukla untuk melepas anak buahnya.

Para pendaki militer itu sangat bersemangat dalam melakukan pendakian. Menurut Ogun, disiplin militer dan unsur komandan dalam tim, yang berpangkat lebih tinggi, sangat mempengaruhi pendaki militer. Ini diakui oleh Sudarto, Ketua Tim Jalur Selatan. "Saya memang memerintahkan untuk mendaki sampai puncak. Sampai titik darah penghabisan," ujar Sudarto yang kini bertugas di Satuan Intelijen Kopassus.

Para pendaki militer, menurut Ogun, melakukan tracking dan pendakian dengan cepat. Ini berbeda dengan para pendaki sipil yang sangat mafhum cara ini bisa berbahaya karena tubuh manusia perlu proses aklimasi. "Di satu sisi ini keuntungan buat para pendaki militer. Mereka tidak pernah berpikir soal bahaya. Motivasi, power, dan mental mereka lebih baik dari rekan-rekan pendaki sipil," kata Sudarto.

Dampak teknik ngebut ala Kopassus di lereng gunung bersalju ini bukan tak membawa akibat. Jika malam, saat beristirahat di tenda dibawah sergapan salju dan suhu di bawah nol derajat, sejumlah pendaki militer terserang penyakit sakit kepala hebat. Mereka berteriak-teriak histeris sembari memegang kepalanya. "Tapi, paginya mereka sudah sehat dan mendaki dengan ngebut lagi," kata Ogun.

Di basecamp tim selatan, pada ketinggian 5.300 m, terjadi keputusan penting. Tim pelatih memutuskan hanya tiga yang mendapat tugas untuk menyelesaikan final attack, menuju puncak tertinggi dunia. Semuanya anggota Kopassus: Asmujiono, Misirin, dan Iwan Setiawan. Dari tiga pasukan komando itu Asmujiono yang berhasil mencapai dan menggapai tripolid. Di puncak tertinggi di dunia itu, 26 April 1997, pukul 15. 10 waktu Nepal, Asmujiono mengibarkan bendera merah putih.

Misirin dan Iwan Setiawan sendiri terserang acute mountain sickness, penyakit ketinggian. Keduanya terkapar antara hidup dan mati. Misirin bahkan sempat pingsan. "Kepala saya sakit luar biasa," katanya, mengenang. Kendati tak mencapai summit, karena posisinya dalam "zone summit," secara internasional, ia telah dinyatakan mencapai puncak.

Iwan Setiawan, yang posisinya paling belakang, dengan sisa tenaganya merayap untuk menggapai summit. Tapi cuaca sudah berubah, berbahaya.Vinogradsky meminta turun. Iwan menolak. "Jika Anda celaka itu membuat cacat kesuksesan tim Indonesia," teriak Vinogradsky. Ia percaya kenekadan Iwan ini bisa berujung kematian. Iwan menurut. Akhrinya ketiga pendaki Indonesia ini turun bersama-sama. Tenaga yang sudah terkuras habis membuat mereka meluncur dengan melorot. "Saya sudah tidak punya tenaga," kata Asmujiono.

Sementara itu hal sebaliknya terjadi pada Tim Utara. Tim ini diserang badai. Ogun sadar badai Everest bisa menewaskan mereka.Ia memutuskan turun. Tapi, dua pendaki Kopassus, Sunardi dan Tarmidi ngotot mendaki."Mereka sangat nekad sekali," ujar Ogun. Tapi, kemudian kedua anggota Kopassus itu menyerah, ikut turun.

Tim Utara sebenarnya akan melakukan kembali pendakian kembali ke puncak. Tapi, mereka mendapat perintah untuk segera turun dan menghentikan pendakian. "Para jendral, termasuk Pangab Faisal Tanjung sudah datang ke Nepal untuk menyambut kesuksesan Tim Selatan. Kami harus segera bergabung ke sana," kata Ogun.

0 komentar:

Poskan Komentar