Senin, 24 Januari 2011

mengenang team expedisi everest INDONESIA

26 APRIL 1997 adalah hari yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Pada hari itu, putra-putra terbaik bangsa ini berhasil memancangkan Sang Saka Merah Putih di puncak Everest (8.848 m dpl.), tempat paling tinggi di dunia dan sering dianggap sebagai simbol ketangguhan suatu bangsa. Di Asia Tenggara, dan di antara negara-negara yang berada di lintang tropika, Indonesia adalah negara pertama yang mampu melakukannya. Bukankah itu sebuah kebanggaan nasional?
Pada 25 Oktober 2002, saya menghadiri presentasi tentang ekspedisi itu di PUSDIKPASSUS Batujajar, Bandung. Misirin―satu dari dua anggota Tim Indonesia yang berhasil mencapai puncak Everest―hadir di sana dan mengisahkan perjalanan mahaberat itu kepada kami semua. Di akhir presentasi, Ia mengeluarkan lima buah buku berjudul “Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan.” Saya sangat beruntung karena―dengan menjawab sebuah pertanyaan―bisa mendapatkan satu di antaranya. Dari buku itu saya mengetahui bagaimana sikap patriotik para pendaki gunung Indonesia yang rela mati demi mengangkat nama baik bangsa, meskipun beberapa tahun kemudian, perjuangan dan nama mereka (mungkin) terlupakan atau sama sekali belum pernah kita dengar!

Tim Ekspedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan dari pendaki-pendaki sipil (Wanadri, Mapala UI, FPTI, Rakata) dan militer (KOPASSUS)―yang sebagian besar belum pernah melihat dan menyentuh salju―berangkat menuju Nepal pada akhir Desember 1996. Setelah beberapa hari beristirahat di Kathmandu, mereka langsung mengikuti latihan yang sekaligus merupakan seleksi untuk mereka yang akan diikutsertakan dalam pendakian Everest pada bulan Aprill 1997. Seleksi pertama dilakukan di Paldor Peak (5. 928 m dpl.), dilanjutkan dengan seleksi kedua di Island Peak (6.189 m dpl.). Di bawah bimbingan pelatih, Anatoli Boukreev (39, Rusia), Vladimir Baskirov (44, Rusia), Evgenie Vinogradsky (52, Rusia), pendaki-pendaki itu belajar mengenal gunung es dan mempelajari teknik mendakinya. Kegembiraan saat pertama kali melihat hamparan es dan menginjak butir-butir salju, konon mereka ekspresikan dengan berlari-lari seperti anak-anak, duduk di atas bongkahan es, atau saling melempar dengan bubuk salju sambil berteriak-teriak. Sangat pantas jika banyak pendaki asing yang mencibir, atau bahkan melontarkan pertanyaan sinis: benarkah orang-orang seperti ini akan mendaki Everest?
Namun, pendaki gunung Indonesia adalah orang-orang yang sangat menyadari di mana titik kelemahan mereka. Kesadaran akan keterbatasan fisik, waktu persiapan yang sangat singkat (enam bulan), dan pengalaman yang sangat miskin, melahirkan keputusan untuk memakai pelatih terbaik, Sherpa (pemandu yang terdiri dari pembuka jalur, pengangkut barang, dan pemasak) terbaik, dan peralatan pendakian terbaik di dunia. Kesadaran akan titik lemah itu ternyata dimiliki pula oleh Anatoli Boukreev yang dipilih sebagai pelatih. Selain memahami pendaki macam apa yang akan dibimbingnya, ia pun menyadari kelemahan dirinya sendiri. Boukreev adalah pemandu gunung yang sangat handal, namun ia merasa kurang pandai dalam perkara manajemen pendakian dan kurang luwes dalam berhubungan dengan anggota tim. Konon, Ia mengakui hal itu dengan mengatakan “I wanted…..some balanche for my rather difficult personality.” Itulah yang membuatnya meminta didampingi oleh pelatih lain yang dianggap cakap. Kesadaran-kesadaran itu, baik dalam diri pendaki Indonesia maupun pelatihnya, ternyata mampu melahirkan keputusan-keputusan dan strategi tepat yang mengantarkan mereka meraih puncak.
Waktu yang sedikit itu terus mereka gunakan untuk berlatih, mendongkrak kualitas fisik dan teknik dengan dilandasi semangat yang terus berkobar. Mereka tahu bahwa sebuah tim ekspedisi Everest negara lain, yang terdiri dari pendaki-pendaki profesional, biasanya memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk berlatih, seperti halnya Malaysia yang pada saat itu juga tengah mempersiapkan pendakiannya. Tercatatnya Malaysia sebagai salah satu tim ekspedisi di musim pendakian 1997 kian memperbesar tekad.
Dalam ekspedisi ini, Tim Indonesia dibagi menjadi dua: tim yang mendaki dari jalur selatan (Nepal), dan tim yang mendaki dari jalur utara (Tibet). Tim selatan terdiri dari 10 pendaki, 2 pendukung, 3 pelatih dan 20 Sherpa. Sedangkan tim utara terdiri dari 6 pendaki, 2 pendukung, 1 pelatih (Riszhard Pawlowsky (44), Polandia) dan 15 Sherpa. Dengan dua tim dari dua jalur yang berbeda, peluang keberhasilan Indonesia menjadi lebih terbuka. Mengapa? Hal yang paling ditakuti pendaki-pendaki Everest adalah badai dahsyat yang dikenal sebagai Jet Stream Wind, dinamakan demikian karena suaranya konon menderu-deru bagai raungan pesawat jet dengan kecepatan mencapai 100 mil per jam. Badai ini akan menyebabkan suhu udara berubah drastis dan memicu terjadinya longsoran salju (avalanche). Sejarah mencatat, jika jalur selatan dihantam badai, maka jalur utara biasanya aman. Demikian pula sebaliknya. Maka Tim Indonesia berharap bisa mencuri sukses di antara dua jalur itu: kelak kita tahu bahwa badai dahsyat menghentikan pendakian Tim Utara―yang dimotori Gunawan Ahmad “Ogun” dari Wanadri)―pada ketinggian 248 meter di bawah puncak Everest.
***
Tim Selatan menginjakkan kaki di Base Camp Everest (5.300 m) pada 18 Maret 1997, dan segera memulai masa aklimatisasi, yaitu penyesuaian diri dengan suhu udara yang sangat ekstrim. Base Camp Everest masih kosong, tim-tim negara lain belum ada karena waktu favorit pendakian memang belum tiba. Dengan demikian, Tim Indonesia menjadi tim pertama yang mendaki Everest di musim pendakian 1997, ketika salju masih sangat tebal karena musim dingin baru saja akan berakhir. Selama dua minggu, mereka melakukan pendakian secara bertahap ke Camp I (6.100 m), Camp II (6.500 m), Camp III (7.300 m) dan Camp IV (7.980 m). Semakin ke atas, pendakian semakin berat karena kadar oksigen semakin tipis, sedangkan nafsu makan hampir hilang sama sekali. Tanpa proses aklimatisasi yang memadai, para pendaki bisa cepat terkena penyakit ketinggian. Ada dua jenis penyakit ketinggian yang sangat berbahaya, yaitu High Altitude Pulmonary Edema/HAPE (pembengkakan paru-paru akibat ketinggian) dan High Altitude Cerebral Edema/HACE (pembengkakan otak akibat ketinggian). Selain itu, ada pula resiko gigitan salju (frosbite) yang bisa memaksa seorang pendaki kehilangan jari-jari kaki dan tangannya.
Setelah hampir mencapai Camp IV, dan masa aklimatisasi dianggap cukup, Tim Selatan turun ke ketinggian 3. 867 meter untuk melakukan pemulihan (recovery) selama dua minggu, sebelum memulai summit attack (pendakian ke puncak) mulai 22 April 1997. Berdasarkan pemantauan dan ranking yang dibuatnya selama masa aklimatisasi, ketiga pelatih itu memutuskan bahwa hanya tiga orang yang akan mendapat kesempatan mendaki ke puncak Everest, dan ketiganya merupakan pendaki militer. Dengan demikian, setiap pendaki langsung didampingi oleh seorang pelatih. Ini dianggap penting mengingat para pendaki Indonesia bukanlah pendaki gunung profesional. Keputusan ini tentu saja sangat mengecewakan para pendaki sipil, terutama mereka yang masih merasa sanggup, seperti Galih Donikara (Wanadri) dan Ripto Mulyono (Mapala UI). Di saat-saat seperti inilah kekuatan sebuah tim ekspedisi diuji. Obsesi individu yang menggebu-gebu harus ditekan dan direlakan demi keberhasilan tim. Siapa yang tak ingin mencapai puncak setelah perjuangan yang begitu berat dan puncak sudah sangat dekat? Tetapi, dengan besar hati mereka bisa menerima kenyataa ini. Ripto Mulyono mengatakan bahwa “secara pribadi saya kecewa. Tapi saya menekan kekecewaan itu dengan berpikir lebih luas, bahwa ini demi merah putih!”
***
Ketika kita bergulung dalam selimut hangat dan kasur empuk pada dinihari 26 April 1997, Lettu Iwan Setiawan (29 th, Komandan Tim Selatan ), Sertu Misirin (31) dan Pratu Asmujiono (25), didampingi oleh Anatoli Boukreev, Vladimir Baskirov, Evgenie Vinogradsky, Appa Sherpa dan Dawa Nuru Sherpa, tertatih-tatih meninggalkan Camp IV di South Col (7.980 m). Mereka mulai memasuki ketinggian 8.000 meter yang dikenal sebagai zona kematian (dead zone). Langkah mereka menjadi sangat berat karena salju yang tebal membenam setinggi lutut, suhu udara pagi itu sekitar -300 Celcius. Mereka telah menggunakan tabung oksigen agar tetap bisa bernafas di ketinggian itu, masing-masing membawa dua tabung saat merambah lereng bersalju dengan kemiringan 75-80 derajat. Sebagai tim pertama yang mendaki pada musim itu, tim merekalah yang harus memasang lintasan tali menuju puncak, karena lintasan pendakian musim sebelumnya sudah rapuh dan terkubur salju. Dengan kondisi fisik yang kian menghawatirkan, perjalanan mereka menjadi semakin lamban. Ketiga pendaki Indonesia itu diperkirakan mencapai puncak pada pukul 15.00: waktu yang sangat terlambat, dan kemungkinan tersapu badai pada perjalanan turun menjadi sangat besar! Batas toleransi pencapaian puncak Everest adalah pukul 13.00. Puncak Everest sendiri bukanlah tempat yang nyaman bagi seorang manusia. Dalam buku Into Thin Air, Jon Krakauer memberi gambaran dengan menulis bahwa “pada ketinggian troposfer 29.028 kaki, sangat sedikit oksigen yang bisa masuk ke dalam otakku sehingga kapasitas mentalku sama dengan kapasitas mental seorang anak yang terbelakang. Dalam kondisi seperti itu aku hampir tidak bisa merasakan apa-apa kecuali rasa dingin dan lapar.”

Pada pukul 15.30, 26 April 1997, Pratu Asmujiono meneriakkan kalimat takbir (Allahuakbar) sambil menangis dan memeluk tripod yang merupakan penanda puncak Everest (8.848 m). Ia kemudian mengibarkan Merah Putih dan menyanyikan lagu Padamu Negeri, mengabaikan perintah Anatoli Boukreev yang menyuruhnya segera turun. Ketika Boukreev mangambil potret, Asmujiono membuka masker oksigennya: dalam gambar ia terlihat berdiri tegak di samping tripod Everest dengan memakai “baret merah,” kedua tangannya memegang bendera Indonesia. Pendakian Misirin terhenti karena ia terjatuh dan pingsan beberapa meter sebelum tripod, sedangkan Iwan Setiawan terhenti beberapa meter di bawah Misirin. Meskipun tidak sempat menyentuh tripod, Misirin dianggap telah mencapai puncak dan berhak memperoleh sertifikat sebagai summiter (orang yang berhasil mencapai puncak) Everest. Bagi Warga Indonesia dan Asia Tenggara, Asmujiono dan Misirin merupakan orang pertama dan kedua yang bisa mencapai tempat itu. Dan dalam daftar summiter Everest, nama mereka tercatat pada urutan ke-662 dan 663.
***
Terlambat sampai di puncak berarti harus siap menghadapi badai dalam perjalanan turun. Dan jika badai itu datang, jarang ada yang bisa selamat dari amukannya. Kenyataan inilah yang dihadapi tiga putra terbaik bangsa Indonesia yang belum selesai berjuang saat itu. Setahun sebelumnya, 10 Mei 1996, amukan Jet Stream Wind menewaskan beberapa pendaki yang tergabung dalam Adventure Consultant Guided Expedition dan Mountain Madness Guided Expedition dalam perjalanan turun yang terlambat. Kedua pemimpin dari dua tim ekspedisi itu―Rob Hall (Selandia Baru) dan Scott Fischer (USA)―tewas bersama beberapa anggota timnya: Andy Harris (Selandia Baru), Doug Hansen (USA), Yasuko Namba (Jepang).

Pada musim itu, ada pula beberapa pendaki dari tim lain yang meninggal sebelum dan sesudah 10 Mei. Karena banyaknya korban tersebut (12 orang), musim pendakian 1996 sering disebut sebagai “Everest 1996 Dissaster.” Tragedi tersebut tentu saja masih membayangi Anatoli Boukreev yang kini harus bertanggungjawab atas keselamatan Tim Indonesia, karena saat tragedi itu terjadi, ia berperan sebagai pemandu dalam Tim Mountain Madness. Kala itu Boukreev nekad menembus badai dan berhasil menyelamatkan beberapa nyawa, tindakannya kelak dikenal orang sebagai “the amazing rescue.”
Untungnya strategi pendakian Tim Indonesia telah disusun dengan mempertimbangkan hal paling buruk sekalipun. Berbeda dengan tim ekspedisi lain―yang akan langsung turun ke Camp IV setelah mencapai puncak―Tim Indonesia menyiapkan Emergency Camp di ketinggian 8.500 m. Sejak awal memang telah diperkirakan bahwa mereka tidak akan mampu turun langsung ke Camp IV. Meskipun memang tepat, keputusan untuk bermalam di ketinggian 8.500 meter merupakan hal baru yang dianggap gila dan tidak masuk akal.
Di Emergency Camp yang hanya terdiri dari sebuah tenda berukuran 1×1,25 meter, tiga pendaki Indonesia dan tiga pelatihnya berdesakan melewati malam yang sangat mencekam. Semua Sherpa sudah kembali ke Camp IV, karena tidak mau menanggung risiko untuk bermalam di zona kematian. Dua tabung oksigen yang ada di sana, yang sudah habis sebelum pagi tiba, digunakan bergiliran oleh Asmujiono, Misirin dan Iwan Setiawan. Melihat kondisi mereka yang demikian menderita, para pelatih tak lagi menggunakannya. Atas kehendak Tuhan, mereka mampu bertahan hidup di malam yang hampir mustahil dilalui itu. Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan turun menuju Base Camp, dan tiba di sana pada 30 April 1997. Padahal saat mereka bermalam di Emergency Camp, pendaki-pendaki lain telah menganggap mereka tidak akan pernah kembali lagi.
Di Base Camp, putra-putra Indonesia yang mengawali pendakian di tengah kesangsian dan cibiran itu disambut meriah bagai pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran. Beberapa surat kabar terkenal di Nepal―seperti juga koran-koran di Indonesia―beramai-ramai memberitakan keberhasilan mereka. Sebuah mitos bahwa “orang-orang tropik yang miskin pengalaman mendaki gunung es tak mungkin mencapai puncak Everest” telah runtuh di tangan Indonesia!
***
Keberhasilan itu sangat pantas dikenang! Dari mereka kita bisa belajar tentang betapa pentingnya semangat, kerja keras, pengorbanan, ketabahan, keyakinan, mawas diri, profesionalisme, kebersamaan serta keikhlasan dalam mewujudkan suatu tujuan. Dan di atas semua itu, kita harus menyadari bahwa Tuhan telah mengatur segalanya, kita hanya bisa berserah diri dan berdoa. Nilai-nilai itulah yang diperlukan bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan dan mendaki ke puncak kejayaan. Keberhasilan pendakian Everest di Himalaya harus menjadi motivator bagi keberhasilan pendakian “Everest-Everest” lain yang menjulang tinggi dalam kehidupan kita. Ada baiknya jika mengingat dan merenungkan kembali apa yang pernah dikatakan Walter Bonatti (Italia): “aku percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar kita. Karena itu aku percaya bahwa gunung dengan segala keindahannya serta hukum-hukumnya merupakan sekolah yang terbaik bagi manusia.”

1 komentar:

alphin mengatakan...

Artikel yang bagus gan,soalnya peristiwa penting yg lama dan jarang publikasi,secara pribadi saya salut sama asmujiono teman sekampung saya,dia kakak kelas sy di smpn2 Tumpang kab Malang,saya masih ingat ketika memakai caier/ransel dia ( mrk seratus kap 80 ltr made in Canada ) yg di pakai kepuncak everest untuk pendakian sy ke semeru 1998 lalu dan masih bnyak foto2nya dari ekspedisi itu yg sy simpan mudah2an tdk rusak saat tinggal merantau ke kalimantan,tks

Poskan Komentar